Hari itu seperti biasa sebuah notif Whatsapp muncul pada layar handphoneku. Terlihat pesan dari Ayahku yang mengirimkan sebuah file dokumen. Tanpa menunggu lama, ku buka pesan tersebut beserta file dokumennya. Ternyata tiket pesawat menuju ke Bali. Tidak kaget karena memang hal itu adalah permintaan ku bulan lalu, pergi ke Bali.
Terakhir kali aku pergi ke Bali saat aku masih kecil. Mungkin diperkirakan saat aku berumur 3 tahun. Benar-benar sudah lama sekali, bukan? Jadi jelas saja jika aku menginginkan kembali untuk pergi ke Bali dan melihat apa saja perubahan yang terjadi di Bali.
Tidak terasa, tibalah hari dimana aku harus pergi ke Bali. Aku pergi besama Mamah dan Nanda, seperti biasanya. Dijadwalkan pesawat keberangakatan pada pukul 8 pagi dan kita bertiga telah bersiap-siap untuk mandi dan menyelesaikan segala keperluan yang dibutuhkan selama di Bali. Karena kebiasaanku yang sering prepare H-1 keberangkatan, sehingga menyebabkan kekacauan saat persiapan di hari H. Masih banyak barang yang belum aku persiapan sehingga sedikit menunda keberangkatanku menuju Airport.
Selang satu jam persiapan, akhirnya kami berhasil menuju Airport dengan keadaan takut karena takut tertinggal flight. Belum sesampainya kami di Airport, Ayahku tidak henti-hentinya menelepon kami untuk tahu posisi kami lagi dimana. Saat aku angkat telfonnya, hanya terdengar ocehan-ocehan kecil dari Ayah karena kami yang belum sampai Airport haha.
Saat check in, petugas ticketnya menayakan kami ingin keberangkatan yang jam berapa. Tanpa basa-basi, kami bilang yang tercepat dari sekarang. Huft, aman pikirku, kami tidak telat. Karena aku merasa jadwal keberangkatanku masih lama, aku dan Nanda memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Airport dan membeli beberapa cemilan disana. Tidak lama dari itu, kami check in dan menunggu di ruang tunggu boarding. Dengan keadaan terheran-heran karena tidak ada satupun penumpang lain selain kami bertiga. Dengan santai aku dan Nanda memilih kursi yang menurut kami paling nyaman sambil menyantap makanan kecil kami sembari memandangi pemandangan pesawat yang berjejer didepan.
Sayup-sayur terdengar announcement di telingaku. Tidak terlalu terdengar karena dikupingku sedang terpasang earphone dengan lagu kesukaanku. Nanda menepuk bahuku sembari berkata,
"Itu annoucement final call dari flight kita!", katanya.
Kaget, aku langsung berdiri dan menyiapkan barang-barangku, bergegas masuk pesawat. Dan benar saja itu adalah benar flight menuju Bali.